EFEK DAKWAN DAN TAHAP PERUBAHAN PRILAKU
Oleh:
Zahro'atul Iftitah N.R(B94219103) Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah yang diberikan-Nya sehingga tugas ini dapat saya selesaikan, sholawat dan salam tak lupa saya haturkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam kesempatan ini saya ingin berterimakasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, ibu Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I, serta ibu Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I yang telah memberikan bimbingan dan kepercayaannya kepada saya untuk mengerjakan tugas ini.
Saya berharap buku ini dapat memberikan sebuah kontribusi bagi usaha pengembangan dakwah islam saat ini, dan mampu mendorong pembacanya untuk menyebarkan dakwah islam dengan baik dan maksimal.
Surabaya. 20 Agustus 2019
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................ 1
B. Tahap Perubahan Prilaku .................. 11
C. Evaluasi Dakwah ............................. 14
BAB I PEMBAHASAN
A. PERSUASI DAKWAH
1. Pengertian Komunikasi Persuasif
Kata persuasif berasal dari bahasa latin yaitu “persuasion” dengan kata kerja “persuader” yang artinya membujuk, mengajak, merayu. Selain itu persuasi juga diartikan sebagai komunikasi yang dilakukan sebagai ajakan atau bujukan agar mau bertindak sesuai dengan ajakan komunikator.1
Persuasi adalah kegatan psikologis dalam usaha mempengaruhi pendapat, sikap, sifat, dan prilaku sesesorang atau orang banyak. Dalam hal mempengaruhi pendapat, sikap, sifat, dan perilaku. Namun, mempengaruhi yang di maksud persuasif adalah didasari oleh proses komunikasi dalam bentuk pernyataan yang semata-mata menggunkan argumentasi serta alasan- alasan psikologis.2
Komunikasi persuasif pada prinsipnya sama dengan komunikasi pada umumnya. Bedanya terletak pada maksud dan tujuan komunikatornya (Bettinghaus dan Cody,1994:5). Komunikasi persuasif bertujuan memengaruhi sikap akibat paparan informasi yang diberikan.3
1 Wahyu Ilahi, Komunikasi Dakwah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2010),125 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018)
h. 39
2 Moh Ali Aziz, Jurnal Ilmu Dakwah (Jakarta: Kencana. 2017)
3 Iswandi Syahputra, Komunikasi Profentik (Bandung: Simbiosa Rekatama Media),2011
2. Pengertian Dakwah Persuasif
Usaha untuk memengaruhi pendapat, pandangan, sikap, ataupun mengubah tingkah laku seseorang dapat ditempuh dengan dua cara , yaitu:
a. Koeresif, yaitu dengan cara paksa.
b. Persuasif, yaitu dengan memengaruhi jiwa seseorang, sehingga dapat membangkitkan kesadarannya untuk menerima dan melakukan sesuatu.
Dakwah termasuk jenis cara yang kedua . Dakwah persuasif mendasarkan usaha pada segi-segi psikologis dan yang ingin diraih, yaitu kesadaran seseorang untuk melaksanakan sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki pengetahuan dan keahlian 4
Esensinya dakwah dan komunikasi memiliki kaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Dakwah dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi manusia, dan sebaliknya dakwah dapat menjadi sumber etika dan moral bagi komunikasi, baik sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai aktifitas sosial.5
Ahmad Mubarok dalam buku Psikologi Dakwah mengungkapkan bahwa kegiatan dakwah adalah kegiatan
4 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, cet 6(Jakarta: KENCANA, 2017) h. 382
5 Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi. (Yogyakarta: Graha Ilmu. 2011). h 35 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018) h. 42
komunikasi, dimana da’i mengomunikasikan pesan kepada mad’u, baik secara perorangan maupun kelompok.6
Sedangkan menurut Syamsul Arifin Amin, pengertian dakwah itu tidak jauh dari komunikasi. Hanya saja yang dibedakan dari bentuk komunikasi lainnya adalah pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi adalah adanya partisipasi dari komunikan atas ide-ide atau pesan-pesan yang disampaikan komunikator sehingga dari pesan tersebut terjadi perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan.7
Oleh karenanya, komunikasi dakwah bukan hanya sekedar proses penyampaian suatu pesan mengenai dakwah oleh seseorang kepada yang lain, tetapi harus ditelaah secara holistic, dengan melihat komponen yang lain secara fungsional, dimana terdapat tujuan yang jelas yang akan dicapai8.
Adapun dakwah persuasif diartikan sebagai suatu kegiatan untuk menyebarkan ajaran islam dengan menggunakan data dan fakta psikologis dari mad’u, sehingga mereka menemukan kebenaran dan kesadaran yang menjadikan sikap
6 Ilaihi, Komunikasi Dakwah, 24 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah
K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018) h. 43
7 Samsul Arifin Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Penerbit Amzah, 2009), 145 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018) h. 4
8 Slamet, “Efektivitas Komunikasi dalam Dakwah Persuasif”, (dalam Jurnal Dakwah,10 (2), 2009), 181 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018)
h. 43
dan tingkah lakunya terpengaruh dan terarah untuk menerima dan serta melaksanakan ajaran-ajaran Islam.9
3. Bentuk-Bentuk Dakwah Persuasif
Komunikasi persuasif sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti melalui ceramah,iklan, dan himbauan. Oleh karenanaya seluruh bentuk komunikasi yang bisa digunakan sebagai saluran untuk melakukan komunikasi persuasif.10 Adapun bentuk bentuk komunikasi di bagi menjadi lima, yaitu:
a. Intrapersonal
Dalam bentuk ini, dakwah persuasif adalah suatu proses komunikasi yang terjadi dalam diri sesorang, dimana ia membujuk dirinya sendiri (semacam auto-sugesti) untuk melakukan suatu perbuatan. Adapun yang menjadi pusat perhatian di sini adalah bagaimana jalannya proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya.
b. Interpersonal
Dalam konteks ini komunikasi persuasif adalah suatu komunikasi antarpribadi atau komunikasi antarperorangan yang
9 Slamet, “Efektivitas Komunikasi dalam Dakwah Persuasif”, (dalam Jurnal Dakwah,10 (2), 2009), 181 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018)
h. 44
10 Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Cet. 3 (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2007), 57-83; Mulyana, Komunikasi…., 77. Dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018) h. 45
bersifat pribadi, baik yang terjadi secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium) dimana seorang komunikator menggunakan cara-cara yang bersifat membujuk, merayu, untuk mempengaruhi seorang (diadik) atau dua orang (triadik) komunikannya.
c. Group communication (komunikasi kelompok)
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok kecil seperti rapat, pertemuan, konperensi, dan sebagainya. Komunikasi persuasif dalam konteks ini misalnya terjadi pada saat seorang komunikator hendak menyampaiakan sebuah keputusan yang harus diseakati oleh setiap anggota kelompok.
d. Organizational communication (komunikasi organisasi)
Definisi komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling brgantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang berubah-ubah. Dalam komunikasi persuasif ditekankan pada bagaimana seorang pimpinan dapat mengarahkan bawahannya untuk berpendapat, bersikap, dan bertindak sesuai yang diinginkan oleh pimpinan melalui cara- cara yang lembut dan tanpa paksaan.
e. Mass communication (komunikasi masa)
Komunikasi mas adalah komunikasi yang dilakukan melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, antara siaran radio dan televise yang ditunjukkan kepada umum dan film yang di pertunjukkan di gedung-gedung bioskop.
4. Metode Dakwah Persuasif
Jika dakwah persuasif dengan metode ceramah, pembicara dapat menggunakan alat-alat psikologis, agar menghasilkan kesan yang mendalam (Suwito Kusumowidagdo) dalam T.A. Lathief Rousydy, 1989; 286-290), yaitu :
1. Docare
Docare yaitu meyakinkan audiensi dengan menerangkan, menjelaskan , dan membuktikan kebenaran isi dakwah, serta menunjukkan tidak benarnya pendapat orang lain yang bertentangan menggunakan beberapa bukti untuk mendukungnya .
2. Permover
Permover yaitu cara menggerakkan perasaan dan kemauan audiensi dengan jalan directe pathiek, yakkni dengan kekuatan perasaan dan keyakinannya, pembicara melahirkan kata hatinya dengan penuh semangat yang menyala-nyala.
3. Conciliare
Conciliare yaitu cara menarik perhatian pendengar terhadap isi ceramah, dengan cara :
a. Menunjukkan pentingnya masalah
b. Menunjukkan bahwa pendengar mempunyai kepentingan langsung dengan masalah tersebut
c. Menggunakan sopan santun ceramah
d. Memperhatikan cara- cara bicaranya
e. Menghias pokok pembicaraan
4. Frapper Toujour (Pukul terus)
Frapper Toujour , cara ini telah teuji untuk menanamkan suatu pengertian atau paham hingga mendalam . maksud cara ini ialah dengan berulang-ulang dan tegas pengertian atau paham itu dikemukakan, dipuji, supaya pendengar hafal mengetahui betul-betul ,dan akhirnya timbul kepercayaan kepadanya.
5. Simbolik
Simbolik yaitu cara memberi gambaran tentang apa yang dimaksudkan dalam pesan ceramah dengan bahasa lambang . Pembicara harus berpikir dan berbicara dengan gambaran (lambing-lambang) yang telah didengar oleh pendengar.
6. Sensasi
Sensasi yaitu sesuatu yang dapat memaksa pendengar menaruh perhatian kepada pembicara. Memaksa pendengar untuk mendengarkan tersebut dilakikan dengan mengemukakan
:
a. Apa saja yang serba hebat, serba besar, serba lain dari biasa
b. Apa saja yang serba baru yang belum pernah dialami
c. Apa saja yang tidak terduga atau tersangka
d. Apa saja yang serba melebihi harapan dan sebagainya di dalam cara menyampaikan undangan, menyusun acara, dalam mencari kata- kata. Sensasi tentu saja harus digunakan dalam batas-batas etika retorika.
7. Sugesti
Sugesti yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan keyakina tanpa berpikir lebih lanjut. Sensasi dan sugesti haruslah bekerja bersama. Keduanya tidak dapat dipisahkan . keduanya dapat memberikan kepastian batin kepada audiensi .
8. Prestise
Prestise yaitu suatu kekuatan dalam diri sesorang yang menyebabkan orang lain segera membuka jiwanya untuk menerima dan memercayai ucapannya . Prestise biasanya biasanya dimiliki seseorang setelah ia menunjukkan jasa-jasa yang luar biasa yang menimbulkan rasa hormat orang kepadanya. Pembicara yang memiliki prestise yang tinggi lebih mudah diikiti isi pesannya oleh audiensi .11
Menurut kaidah umum bahwa jika suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu menggunakan pendekatan yang tepat, maka tujuan akan tercapai. Demikian pula dakwah, obyeknya akan segera mengikuti seruan dakwah jika telah dilaksanakan dengan pendekatan dan metode yang tepat. 12
5. Konsep Dakwan Persuasif
Dakwah persuasi sendiri ialah kegiatan berdakwah menggunakan metode komunkasi persuasif yang bertujuan
11 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, cet 6 (Jakarta: KENCANA, 2017) hh 382-
385
12 Hasan Bisri, Ilmu Dakwah Pengembangan Masyarakat (Surabaya: UIN Sunan Ampel Pers, 2014) h. 140
mengubah, memodifikasi, atau membentuk respon ( sikap atau perilaku) dari penerima atau mad’u. dan tujuan akan berhasil manakala seorang da’i mampu menyampaikan dakwahnya dengan pendekatan psikologis. Dalam surah Al imran ayat 159 dijelaskan bahwa ada 7 langkah dakwah persuasif, yaitu:
ۚ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسَْت ْغفِرْ
ۚ وَلَ ْو كُنْتَ فَظ ًّا غَلِيْظَ اْلقَلْبِ لَاْنفَض ُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
فَبِمَا رَحْمَةٍ م ِّنَ الل ّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ
ۚ اِن َّ الل ّٰهَ يُحِب ُّ الْمُتَوَك ِّلِيْنَ
ۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَك َّلْ عََلى الل ّٰهِ
لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ ِفى الَْامْرِ
“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad. Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allahmenyukai orang yang bertawakal kepada-Nya “(QS. Al Imron [3] 159)
Dari penjelasan ayat di atas, ada tujuh langkah dakwah persuasif:
a. Mendasarkan kegiatan dakwah atas dasar menebar kasih sayang Allah
b. Senantiasa bersikap lemah lembut dalam menghadapi umat
c. Bersikap lapang dada sehingga mudah memaafkan kesalahan umat
d. Membangun komunikasi personal dengan Allah dengan senantiasa memohon agar Allah mengampuni dosa dan kesalahan umat
e. Bemusyawarah dengan umat dalam merencanakan suatu program aksi
f. Keputusan yang tepat dan mantap dalam bermusyawaroh dengan kebulatan tekat untuk mewujudkannya
g. Bertawakal kepada Allah, jika suatu perencanaan sudah dilakukan dengan cermat dan diputuskan dengan hati yang mantap.13
6. Faktor Pendukung Dakwah Persuasif
a. Pesona dari da’i
Dakwah memerlukan para da’I yang muhlis, giat dan dinamis karena seorang da’i adalah pendidikdan pembangun bangsa14
b. Materi dan penyajian dakwah
7. Faktor Penghambat Dakwah Persuasif
Menurut Mar’at (1982) hambatan komunikasi persuasif di sebabkan oleh faktor internal dan eksternal , factor internal berupa:
a. Presepsi Sosial
b. Posisi Sosial
c. Proses Belajar Sosial
13File:///F:/komunikasi-persuasif-menurut-al-quran_09.html, diakses pada tanggal 13februari 2018 dalam Abd Hadi Faishal, Tesis, Dakwah K.H Khoiron Zainni di Kalangan Remaja (Surabaya: UIN Sunan Ampel,2018) hh. 54-55
14 N. Faqih Syarif H, Menjadi Da’I Yang Dicinta (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama,2011) h 32
Sedangkan faktor eksternal , hambatan komunikasi persuasif dapat disebabkan oleh dalam member penguatan kepada sasarannya. .
2. Tahap Perubahan Perilaku
Menurut Majdi Hilali dalam bukunya, setiap Perubahan perilaku melewati tiga tahapan besar, yaitu akal, hati, dan hawa nafsu. Akal. Jika pemikiran manusia bersumber dari perasaan dan berpusat pada hati, maka yang menggerakkan perasaan itu adalah pikiran. Hati. Pemikiran menjadi pijakan dalam perbuatan namun tetap berlandaskan pada hati. Hawa nafsu. Rasa keinginan diri untuk melakukan sesuatu yang disenangi diri.15 Proses perubahan mitra dakwah setelah mendapat pesan- pesan dakwah dapat melalui berbagai macam tahap dan cara yang berbeda. Dakwah selalu diarahkan menuju tiga aspek pada diri mitra dakwah. Yang pertama Efek Kognitif, Efek Afektif, Efek Behavioal. Perubahan sendiri pun harus berdasarkan keingingan dan kemauan diri sendiri.
1. Efek Kognitif
Efek kognitif adalah efek yang muncul pada mitra dakwah setelah mendapat pesan-pesan dakwah secara Informative. Disini mitra dakwah akan mencoba memahami secara logika tentang kebenaran pesan dakwah yang disampaikan oleh pendakwah. Diharapkan
15 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet.6 (Jakarta, Kencana, 2017), h.389.
setelah mendengar pesan yang di sampaikan oleh pendakwah, mitra dakwah dapat mengubah pola pikirnya mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan hal tersebut menuju pemikiran yang lebih benar dan terbuka.
2. Efek Afektif
Efek Kognitif adalah efek yang ditimbulkan melalui sikap. Seorang mitra dakwah akan menunjukkan reaksinya ketika mendapat pesan-pesan dakwah dengan cara menolak atau menerima. Sikap adalah sama dengan proses belajar dengan 3 variabel sebagi penunjangnya, yaitu: perhatian, pengertian dan penerimaan. 16. Tujuan dari komunikasi massa seperti ceramah adalah bukan hanya sekedar memberitahu public mengenai sesuatu tetapi juga mengajak khalayak atau media dakwah untuk turut merasakan hal tersebut. 17 Sebagai contoh ketika suatu media informasi memberi kabar bahwa seorang artis papan atas terjerat kasus narkoba, berbagai tanggapan muncul dari para masyarakat, ada yang marah, mencaci, bahkan ada yang mendukung. Beberapa sikap diatas lah yang dinamakan efek afektif, menunjukan melalui perbuatan.
3. Efek Behavioral
Behavioral adalah efek yang timbul setelah timbulnya dua efek sebelumnya, bisa berupa tindakan atau tingkahlaku yang merealisasikan pesan yang di sampaikan sang pendakwah. Seseorang akan bertindak dan bertingkahlaku setelah ia
16 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet.6, (Jakarta, Kencana, 2017), h.391.
17 Siti Karlinah, Komunikasi Massa, (Jakarta: Penerbitan UT, 1999)
melewati proses pemahaman tentang apa yang ia ketahui kemudian merasakan apakah hal itu suatu yang benar atau salah, baru melakukan sebuah tindakan yang seharusnya ia lakukan. Mitra dakwah di harapkan bias menyaring informasi dengan baik dan benar lalu dapat mengamalkan dengan perbuatan sesuai dengan tuntunan yang benar dari seorang pendakwah yang menyampaikan hal tersebut. Jika dakwah telah menyentuh aspek behavioral, maka dakwah dapat di katakana berhasil dengan baik, dan inilah tujuan final dakwah.18 Dakwah merupakan upaya mengubah masyarakat dari suatu tingkat keberagamaan tertentu ke tingkat yang lebih tinggi.19Dengan dakwah yang komunikatif dan cara yang tepat akan membuat mitra dakwah akan berangsur-angsur melakukan perubahan pada dirinya, entah dari segi pikiran, sikap, maupun perbuatan. Dakwah tidak akan pernah sia-sia jika di sampaikan dengan baik dan cara yang benar. Tanpa kekerasan dan pemaksaan. Jiwa yang tenang dan terarah akan membawa perubahan yang signifikan terhadap pola pikir yang sebelumnya salah menjadi benar. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri mitra dakwah menjadikan dakwah sebagai penyelamatan. Dakwah dalam pengertian pencegahan atau sering disebut nahi mungkar adalah menjaga manusia tidak terperosok dalam kesalahan atau dosa dan tidak mengalami degredasi manusia.20 Manusia atau mitra dakwah akan sedikit demi sedikit membuka pikiran dan menyadari kesalahannya lalu kembali ke jalan yang benar, dengan begitu dakwah telah menyelamatkannya dari perbuatan mungkar, disinilah dakwah berperan sebagai penyelamatan.
18 Siti Karlinah, Komunikasi Massa, (Jakarta, Penerbitan UT, 1999)
19 Shonhadji Sholeh, “Ilmu Dakwah” dalam Jurnal Vol.9 No.1 April 2004
20 Shonhadji sholeh, Sosiologi Dakwah, Cet.1 (Surabaya, IAIN Sunan Ampel, 2011).
3. Evaluasi Efek Dakwah
Dakwah adalah kegiatan untuk meningkatkan iman seseorang atau kelompok. Sehingga ketika dakwah dilakukan oleh pendakwah dengan melakukan pendekatan, strategi, metode, pesan, dan media yang digunakan, maka akan timbul beberapa respon dari orang yang menerima dakwahnya.
Evaluasi efek dakwah sering kali diabaikan oleh kebanyakan pendakwah baik perorangan maupun lembaga. Kebanyakan mereka setelah dakwah disampaikan maka selesailah dakwah tersebut. Padahal, evaluasi itu sangat penting untuk penentuan rencana dakwah yang akan dilakukan berikutnya. Tanpa melakukan evaluasi dakwah, maka kesalahan-kesalahan yang merugikan tujuan dakwah itu akan terulang kembali. Sebaliknya, dengan mengevaluasi dakwah secara cermat maka kesalahan akan diketahui dan penyempurnaan pada langkah-langkah berikutnya. Oleh sebab itu perencanaan dakwah harus berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya.
Evaluasi efek dakwah harus dilaksanakan secara radikal dan komprehensif, artinya tidak setengah-setengah. Seluruh komponen sistem dakwah harus dievaluasi secara lengkap. Bahkan, evaluasi akan lebih baik jika melibatkan para pendakwah lain, tokoh masyarakat, dan para ahli. Pendakwah harus inklusif (memakai sudut pandang orang lain) disamping pekerjaannya dengan menggunakan ilmu. Jika evaluasi tersebut telah menghasilkan keputusan, maka segera diikuti tindakan korektif (teliti).
Kalau evaluasi dapat terlaksana dengan baik, maka terciptalah suatu perjuangan di dakwah tersebut. Dalam agama, kegiatan tersebut termasuk ihtiar insani, yaitu usaha maksimal untuk suatu tujuan sebelum berserah diri tawakkal) akan hasil usahanya kepada Allah.
Pada dasarnya evaluasi mencakup seluruh komponen dakwah yang dikaitkan dengan tujuan dakwah yang telah ditetapkan dengan hasil yang dicapai. Evaluasi selalu menggunakan perencanaan yang berisi tujuan sebagai tolak ukurnya. Dengan demikan, dakwah yang tidak terencana berarti dakwah yang tidak dievaluasi hasilnya.
Oleh sebab itu, setelah persuasi dakwah dilakukan, perlu dilakukan evaluasi. Rousydy (1989: 335-337) menetapkan beberapa hal yang harus dievaluasi sebagai berikut:
1. Penyajian pesan komunikasi
Penyajian pesan komunikasi adalah tahap pertama dalam proses persuasi. Walaupun dakwah bukan satu-satunya faktor yang menentukan, tetapi tahap ini sangat penting. Oleh sebab itu seorang pendakwah harus memahami masyarakat yang akan menerima dakwahnya.21 Hal ini berhubungan dengan materi yang akan disampaikan. Kesesuaian materi dengan tingkat pengetahuan dan kondisi masyarakat akan berpengaruh lancarnya proses dakwah. Penyajian pesan dapat dilakukan melalui saluran atau media, yaitu alat atau media yang digunakan untuk menyampaikan isi dakwahnya kepada pendengar.22 Saluran atau media yang digunakan harus merujuk pada pesan yang akan disampaikan. Maka dari itu komunikasi yang baik juga sangat penting untuk
21 Najamuddin, Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), hh. 29
22 Abdul Pirol, Komunikasi Dan Dakwah Islam, diakses dari https://books.google.co.id/, pada tanggal 24 August 2019 pukul 12.45
berdakwah. Di dalam berdakwah, yaitu kegiatan yang menyeru dan mengajak orang untuk beriman dan taat kepada Allah. Seseorang harus memerhatikan pesan yang akan disampaikan, jika seseorang tidak mampu berkomunikasi (lisan maupun tulisan) dengan baik di depan publik, maka dia tidak mempunyai etika komunikasi yang baik dalam berdakwah.23
2. Perhatian
Setelah dakwah sudah disampaikan kepada orang yang menerima dakwah baik pendengar ataupun pembaca. Tidak mungkin kita dapat memengaruhi seseorang lewat kata yang diucapkan maupun tulisan, jika orang tersebut tidak menaruh perhatian terhadap isi pesan dakwah yang disampaikan. Perhatian bisa datang dari luar (eksternal) bisa juga dari dalam (internal). Faktor dari luar secara psikologi biasa memiliki sifat-sifat lebih menonjol, misalnya karna pergerakan atau pengulangan.
a. Prinsip pergerakan
Secara psikologi, pergerakan dapat menarik perhatian manusia. Benda kecil yang bergerak lebih menarik dari pada benda besar yang diam, maka dari itu
23Mukh. Khoidar Ali, Skripsi “Dakwah Bil Qalam Ustadz Ismail Idris
Musthafa Di Nusantara” (Surabaya: UINSA, 2017), hal 1-2 dalam H. A. Sunarto AS. MEI, etika dakwah, (Surabaya:Jaduar Press, 2015), hh 10
pendakwah setidaknya menggerak-gerakan tangannya dan kepalanya agar pendengar tertuju kepadanya.
b. Prinsip pengulangan
Secara psikologi, perulangan mendengar, perulangan perjumpaan dan pengulangan dapat menarik perhatian.24
3. Pemahaman
Setelah pendakwah mendapat perhatian dari orang yang menerima dakwah, maka apakah mereka dapat memahami apa yang disampaikan dengan baik. Apakah akan timbul masalah salah paham, salah tafsir, atau salah menjelaskan. Karna tidak mungkin kita memengaruhi orang, jika mereka tidak memahami maksud dan tujuan pendakwah.
4. Tunduk pada pesan pembicara
Sejauh mana pendengar dan pembaca meyakini isi pesan yang telah dipahami. Tunduk pada pesan pembicara tidak akan terjadi, jika pendengar dan pembaca belum meyakini kebenaran isi dakwah dan keuntungan yang didapat dengan mematuhi pesan tersebut, setidaknya mereka bisa menghindari kerugian yang terjadi menimpa mereka.
5. Penahanan dalam ingatan
24 Faizah, dkk. Psikologi Dakwah, diakses dari https://books.google.co.id/, pada tanggal 24 August 2019 pukul 12.50
Jika pendengar sudah minat dan tunduk pada pesan pembicara, maka sejauh mana mereka menahan dalam ingatan mereka. Penahanan yang dimaksud tidak hanya bersifat sementara. Agar pendengar dapat mengingat isi pesan dakwah, pendakwah bisa menggunakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Dengan menggunakan kisah-kisah dalam Al- Qur’an pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an dijadikan pelajaran dalam hidup si pendengar/pembaca.
6. Tingkah laku
Pendengar dakwah harus benar-benar melaksanakan tingkah laku sesuai dengan harapan pendakwah. Isi pesan yang disampaikan dapat berhasil atau tidaknya ditentukan dengan penilaian:
1. Bahwa pendengar telah merasa dan berfikir seperti apa yang dirasakan pembicara.
2. Bahwa pendengar dapat memahami isi pesan dengan baik.
3. Bahwa pendengar sudah paham dan sependapat dengan pembicara.
4. Bahwa pendengar sudah yakin seyakin- yakinnya atas isi pesan yang disampaikan.
5. Bahwa pendengar sudah bertingkah laku seperti yang dimaksud dan tujuan isi pesan
6. Bahwa pendengar rela berkorban untuk membela kebenaran isi pesan.
Dalam komunikasi jika pendakwah tidak mencapai tujuan yang direncanakan, pendengar tidak bisa disalahkan. Pembicara harus intropeksi diri untuk mengetahui kesalahan nya dan penyebabnya, sehingga isi pesan tidak mencapai tujuan.25
25 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), hh. 396-398
BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi persuasif itu tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Dikatakan tidak mudah karena banyak hambatan yang merusak berlangsungnya komunikasi. Dalam komunikasi yang saling bergantung antara unsur satu dengan unsur lainnya, gangguan komunikasi bisa saja terjadi pada semua elemen atau unsure-unsur yang mendukung terlaksananya komunikasi, termasuk unsur pendukung, seperti lingkungan. Namun, dikatakan bisa ditempuh karena hambatan itu bisa di hindari dan diatasi.
Perubahan prilaku biasanya melalui beberapa tahapan, yang pertama akal, kedua hati, dan ketiga hawa nafsu. Efek yang terjadi pada mitra dakwah setelah menerima pesan-pesan dakwah ada tiga, yaitu, Efek Kognitif, Efek Afektif, dan Efek Behavioral. Efek kognitif efek yang bersifat informative. Efek Afektif efek yang menimbulkan efek dapat merasakan secara emosional. Dan yang terakhir adalah efek behavioral yaitu efek yang menyebabkan mitra dakwah benar-benar dapat merubah sikap sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh pendakwah. Jika seorang mitra dakwah sudah mencapai fase behavioral maka dakwah tersebut bias dikatakan sukses. Oleh karna itu evaluasi dakwah diperlukan agar tidak mengulangi kesalahan- kesalahan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Moh Ali. Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana. 2017. Najamuddin. Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an. Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani. 2008.
Ali, Mukh Khoidar. “Dakwah Bil Qalam Ustadz Ismail Idris Musthafa Di Nusantara”. Skripsi. Surabaya: UINSA. 2017
Pirol, Abdul. Komunikasi Dan Dakwah Islam. Di https://books.google.co.id/ ( di akses 24 August 2019 )
Aziz, Moh Ali. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana. 2013.
Sholeh, Shonhadji. Sosiologi Dakwah. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Pers. 2011.
Syahputra, Iswandi. Komunikasi Profetik. Bandung: Refika Offset.
2007.
Aswadi. Debat Terbuka. Surabaya: Dakwah Digital Pers. 2009.
Ilahi, Wahyu. Komunikasi Dakwah. Bandung: PT.Remaja Rosdakary.
2010.
Syahputra, Iswandi. Komunikasi Profentik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2011.
Arifin, Anwar. Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi.
Yogyakarta: Graha Ilmu. 2011.
Amin, Samsul Arifin. Ilmu Dakwah. Jakarta: Penerbit Amzah. 2009. Bisri, Hasan. Ilmu Dakwah Pengembangan Masyarakat.
Sidoarjo:CV.Cahaya Intan XII. 2014.
Syarif, Faqih. Menjadi Dai Yang Dicintai. Jakarta:PT. Gramedia.
2011
Good, hanya saja kurang dalam EYD nya semangat belajar, dan jangan mudah merasa puas dengan hasilnya
BalasHapusBAGUS, hanya saja kurang dalam EYD nya ehe semangat belajar, dan jangan mudah merasa puas dengan hasilnya
BalasHapusalhamdulillah makalah ini memberikan ilmu baru bagi saya tentang bagaimana berdakwah secara persuasif . semoga bisa menghadirkan makalah yang seperti ini lagi dengan judul yang lain untuk mendukung suksesnya suatu dakwah.
BalasHapusSaya sangat puas sekali membaca makalah ini,penjelasannya jelas dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami
BalasHapusMenambah wawasan bagi saya,semoga menjadi ilmu yang berkah
BalasHapusMakalahnya mantap membantu saya sekali dan sangat bermanfaat terima kasih
BalasHapusSangat bermanfaat dan semiga bisa mengambil banyak ilmu dari materi tsb
BalasHapusSudah bagus,tapi ada slet yang masih kurang tatanannya
BalasHapusMateri sudah bagus tapi ada beberapa penulisan yang harus diperbaiki
BalasHapusSangat membantu pengetahuan bagi semua orang yang membaca, materinya juga bagus
BalasHapusterima kasih
Topik dan cara menjabarkan materi, asik dan jelas. Tidak bertele-tele dan langsung pada intinya. Semoga ilmu yang disebar lewat artikel dapat memberi manfaat kepada penulis dan pembacanya
BalasHapusBagus, semoga kedepannya selalu membawa inspirasi bagi teman lainnya dan lebih baik lagi, aamiin
BalasHapusIsi materi yang dicantumkan sangat baik, namun ada beberapa tanda baca yang harus diperbaiki
BalasHapusIsi materi yang dicantumkan sangat baik, namun ada beberapa tanda baca yang harus diperbaiki
BalasHapusMasya Allah,,, makalah ini sangat inspiratif dan mudah dipahami. Terus semangat dan terimakasih 😊
BalasHapusMateri yang dibahas sudah sangat Baik namun Harus teliti saat penempatan tanda baca
BalasHapusMakalah anda sangat bermanfaat bagi siapa saja yang belum mengerti tentang efek dakwah.
BalasHapusMakalahnya mantap, semoga istiqomah dalam berkarya dan bermanfaat bagi yang lain
BalasHapusAlhamdulillah...sangat membantu sekali artikel ini dalam memberikan pemahaman mengenai seluk beluk dakwah.alhamdulillah saya paham dan dapat menyerap informasi di setiap kata dengan mudah... ☺
BalasHapusSemoga bernilai ibadah bagi penulis dan pembaca... Aamiinn
Makalahnya bagus, alhamdulillah dapat menambah pengetahuan. Lebih ditingkatkan lagi ya
BalasHapusAlhamdulillah. Materi nya bermanfaat , membantu sekali untuk mempermudah mencari tentang materi dakwah
BalasHapusMakalahnya bagus, dan alhamdulillah bisa menambah wawasan dalam dakwah, dan materi yang disampaikan sudah jelas.
BalasHapusMakalahnya bagus, alhamdulillah dapat menambah pengetahuan. Lebih ditingkatkan lagi ya
BalasHapusAlhamdulillah ilmu dalam makalah ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari hari
BalasHapusMakalahnya bagus, isi dari makalahnya juga lumayan lengkap dan kata-katanya tidak berbelit-belit sehingga memudahkan pembaca dalam memahami isinya
BalasHapusMakalahnya mantap, semoga istiqomah dalam berkarya dan bermanfaat bagi yang lain
BalasHapusArtikelnya cukup membantu memahami tentang dakwah, semoga bisa ditingkatkan lagi
BalasHapusArtikelnya cukup membantu memahami tentang dakwah, semoga bisa ditingkatkan lagi
BalasHapusGood job broo sangat membantu dan blognya sangat bagus semoga kedepannya bisa berkarya :))
BalasHapusSudah bagus isinya,cuman lebih belajar lagi agar lebih baik kedepannya karena ingat usaha takkan mengkhianati hasil:)
BalasHapusUntuk isinya sudah sangat bagus tetapi sayang spasi jarak antar kalimat atau kurang rapi. Jadi tidak bisa membedakan, apakah sudah masuk paragraf selanjutnya atau belum. Tetap semangat dan terus belajar dan semoga bisa ditingkatkan lagi :)
BalasHapusMasyallah makalah ini sangat menginspirasi. alhamdulillah terimakasih. semoga sukses🙏
BalasHapusAlhamdulillah materinya bagus dan bisa menjadi tambahan ilmu bagi pembaca semoga barokah
BalasHapusLuar biasa, kerja bagus, sangat membantu dan bermanfaat bagi yang mencari materi serupa.
BalasHapusMateri yg disampaikan sangat membantu dan mudah untuk dipahami, keep inspiring
BalasHapusMateri yang di sampaikan sangat bagus, padat berisi, mudah di pahami, good job Zaza💖
BalasHapusUdah bagus,hanya tinggal memperbaiki tata letak spasi sebuah kata,but.. semangat trus,apapun yang engkau kerjakan dengan tekun insyallah membuahkan hasil,sukses selalu!!:)
BalasHapusSudah bagus, mudah difahami hamdalah, cuma kerapiannya agak di periksa lagi hehe, goodluckk, be success gils ❣❣❣
BalasHapusSudah baik,mudah dipahami dan untuk makalah selanjutnya lebih diperbaiki tatanan penulisannya.good luck
BalasHapusterima kasih sudah membagikan ilmu ini, semoga bermanfaat buat kita semua, sama kerapiannya coba diperbaiki lagi, semangat!
BalasHapusUntuk materinya bagus mudah dipahami, tp untuk tatanan penulisannya perlu di perbaiki
BalasHapusMaterinya bagus,mudah dipahami dan bermanfaat bagi pendakwah untuk bekal dalam berdakwah...
BalasHapusAlhamdulillah setelah membaca materi ini saya menjadi ingin mengamalkanya makasi.
BalasHapusMakalahnya bagus.. materinya juga mudah untuk dipahami.. keep going girl😁
BalasHapusSangat bagus makalahnya semoga dapat bermanfaat makalah ini dengan baik dan mampu berguna bagi masyarakat
BalasHapusAlhamdulillah makalah nya sudah cukup baik semoga bisa ditingkatkan lagi aamiin
BalasHapusAlhamdulillah sudah bagus dan materinya dapat dipahami,dan alangkah baiknya penulis menambahkan pendapatnya dalam materi yang dikaji, semoga bermanfaat bagi kita semua. syukron
BalasHapusSangat berguna bagi pembaca..semoga bisa menuliskan hal² yang bermanfaat lagi bagi semua orang...
BalasHapusBagus sekali semoga dapat menambah khazanah ilmu bagi seluruh pembaca
BalasHapusAlhamdulillah karyanya sangat inspiratif, semoga berkah untuk pembaca dan penulis
BalasHapus